Lahan Pertanian di Sumut dilanda banjir. Kilasberita65
MEDAN – Banjir yang masih menggenangi ribuan hektare lahan pertanian di Sumatera Utara memicu ancaman gagal panen massal (puso) dan memperparah tekanan ekonomi petani. Hingga awal Desember 2025, tanaman padi di berbagai daerah dilaporkan telah terendam air selama lebih dari sepekan, kondisi yang dinilai sangat berisiko terhadap kelangsungan produksi pangan daerah.
Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Sumatera Utara (Ketapang TPH Provsu) mencatat total potensi kerugian sementara akibat banjir dan longsor mencapai Rp 922,2 miliar, meliputi kerusakan tanaman pangan, hortikultura, serta jaringan irigasi tersier.
Kepala UPTD Perlindungan Tanaman Pangan, Hortikultura dan Pengawasan Mutu Keamanan Pangan Ketapang TPH Provsu, Marino, SP, MM, menyatakan bahwa padi menjadi komoditas paling rentan dalam bencana kali ini.
“Tanaman padi saat ini masih tergenang air selama sekitar satu minggu. Dengan kondisi seperti ini, besar kemungkinan akan mengalami puso, artinya petani gagal panen,” kata Marino, Rabu (3/12).
Produksi Gabah Hilang Hampir 100 Ribu Ton
Data Ketapang TPH Provsu menunjukkan, lahan padi terdampak banjir mencapai 33.049,41 hektare, dengan 3.878,75 hektare di antaranya sudah berstatus puso. Akibatnya, Sumatera Utara kehilangan potensi produksi sekitar 98.038,73 ton gabah kering panen, dengan nilai kerugian ekonomi mencapai Rp 637,25 miliar.
Kabupaten Mandailing Natal menjadi wilayah paling parah terdampak, dengan ribuan hektare sawah terendam dan nilai kerugian mencapai Rp 129,15 miliar. Disusul Deli Serdang yang mencatat kehilangan hasil lebih dari 32 ribu ton gabah, dengan nilai kerugian Rp 211,06 miliar.
Selain itu, wilayah Serdang Bedagai, Langkat, Asahan, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, hingga Kota Medan juga melaporkan kerusakan signifikan pada lahan padi mereka.
Jagung dan Hortikultura Ikut Terpukul
Tak hanya padi, komoditas jagung turut terdampak banjir di lima kabupaten. Total kerugian jagung tercatat mencapai Rp 14,7 miliar, dengan lahan terdampak 604,30 hektare dan kehilangan hasil sekitar 2.836,53 ton.
Jika digabungkan, total kerugian sektor pertanian di Sumut tercatat sebagai berikut:
Tanaman pangan: Rp 652,06 miliar
Hortikultura: Rp 190,64 miliar
Jaringan irigasi tersier: Rp 79,48 miliar
Pemerintah Siapkan Benih dan Pemulihan Irigasi
Untuk menekan dampak lanjutan, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara bersama Kementerian Pertanian telah menyiapkan 1.000 ton benih padi atau setara kebutuhan 40 ribu hektare lahan guna mendukung tanam ulang petani terdampak.
Langkah lain yang disiapkan meliputi pemulihan jaringan irigasi tersier di wilayah terdampak berat, pemberian bantuan sarana produksi pertanian, monitoring harian kondisi lapangan, serta koordinasi lintas instansi guna mempercepat pemulihan sektor pertanian.
Ancaman gagal panen massal ini dinilai tidak hanya berdampak pada petani, tetapi juga berpotensi memengaruhi ketahanan pangan Sumatera Utara jika tidak ditangani secara cepat dan terkoordinasi. (erniyati)
Komentar
Posting Komentar