Cara Mahasiswa USU Menyentuh Hati Siswa SMAN 1 Sunggal Lawan Perundungan



MEDAN — Pagi itu, aula SMA Negeri 1 Sunggal terasa berbeda dari biasanya. Bukan sekadar kursi yang tersusun rapi atau layar proyektor yang siap menampilkan materi, melainkan suasana hangat yang dipenuhi tawa, obrolan ringan, dan keberanian siswa untuk berbagi cerita. Jumat (7/11) menjadi hari yang bermakna ketika mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) dari Kelompok 85 Proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Perundungan hadir membawa pesan sederhana namun kuat: perundungan bisa dicegah, jika semua mau peduli.

Sebanyak 20 mahasiswa dari berbagai fakultas USU datang ke sekolah itu bukan sebagai pengajar yang memberi ceramah, melainkan sebagai teman diskusi. Di bawah bimbingan dosen fasilitator Dr. Zulfi Chairi, S.H., M.Hum, serta mentor Syifa Syaharina Hafidza, mereka memperkenalkan pendekatan Design Thinking—sebuah metode kreatif yang menempatkan empati sebagai langkah awal dalam menyelesaikan persoalan sosial.

Alih-alih komunikasi satu arah, mahasiswa mengajak siswa SMAN 1 Sunggal menyelami pengalaman mereka sendiri. Video edukatif diputar, diskusi dibuka, dan permainan kolaboratif dilakukan. Perlahan, kesadaran mulai tumbuh. Siswa menyadari bahwa perundungan tidak selalu berupa kekerasan fisik. Sindiran, ejekan, hingga candaan berulang yang kerap dianggap sepele, ternyata mampu meninggalkan luka psikologis yang dalam.

Momen paling menyentuh terjadi saat sesi empati. Siswa diajak membayangkan perasaan teman sebaya yang menjadi korban perundungan. Suasana yang semula riuh perlahan berubah hening. Beberapa siswa mengangguk pelan, sebagian lainnya menunduk—seolah menemukan potongan pengalaman yang pernah mereka lihat, atau bahkan alami sendiri.

“Ternyata kata-kata juga bisa melukai,” ujar salah satu siswa usai sesi tersebut. “Setelah kegiatan ini, kami jadi lebih berani untuk peduli dan melapor kalau ada teman yang disakiti.”

Kepala SMAN 1 Sunggal, Asron Batubara, S.Pd., M.Si

Ketua Kelompok 85, Arina Maria Meilani Sihombing, menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang bukan hanya untuk menyampaikan materi, tetapi membangun kesadaran bersama.

“Kami ingin siswa merasa bahwa mereka punya peran penting. Lewat Design Thinking, mereka tidak hanya menerima informasi, tetapi ikut memikirkan solusi yang sesuai dengan realitas mereka sendiri,” ujarnya.

Dukungan penuh datang dari pihak sekolah. Guru pendamping dan Pembina Ekstrakurikuler PIK-R mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari pembukaan hingga perumusan program anti-perundungan. Dari proses tersebut lahir rancangan awal program yang dapat dimanfaatkan oleh PIK-Remaja Young Generation, mencakup alur pelaporan yang aman, panduan kegiatan, serta media edukasi anti-perundungan yang berkelanjutan.

Kepala SMAN 1 Sunggal, Asron Batubara, S.Pd., M.Si., mengapresiasi inisiatif mahasiswa USU tersebut. Ia menilai kegiatan ini sangat positif dalam upaya mengantisipasi praktik perundungan di lingkungan sekolah.

“Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat untuk membangun kesadaran siswa. Kami berharap program ini dapat dilakukan secara berkesinambungan agar upaya pencegahan bullying benar-benar terasa dampaknya,” ujarnya. (erniyati)

Komentar