MEDAN — Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Ormas Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) Kota Medan periode 2017–2022, Ihsan Kurnia, menyatakan keprihatinannya terhadap semakin kompleksnya peran ibu di era modern yang belum diiringi perlindungan dan keberpihakan kebijakan yang memadai.
Menurut Ihsan, ibu tidak lagi hanya berperan sebagai pengasuh dan pendidik pertama bagi anak-anak di dalam rumah. Di tengah tekanan ekonomi dan perubahan sosial, ibu juga menjadi penggerak ekonomi keluarga, penjaga kesehatan rumah tangga, serta penopang utama stabilitas emosional keluarga.
“Banyak ibu bekerja di ruang publik untuk menopang ekonomi keluarga, namun tetap memikul sebagian besar tanggung jawab domestik. Beban ganda ini kerap dianggap normal, padahal sangat berat,” ujar Ihsan di Medan, Sabtu (20/12).
Ia juga menyoroti kondisi ibu tunggal yang harus menjalani seluruh peran tersebut seorang diri, sering kali tanpa dukungan sosial maupun kebijakan negara yang memadai. Dalam situasi terbatas, banyak dari mereka bertahan bukan karena pilihan, melainkan karena keterpaksaan.
Ironisnya, besarnya peran ibu belum sejalan dengan perlindungan yang diterima. Ihsan menilai diskriminasi di tempat kerja masih menjadi persoalan nyata, mulai dari keterbatasan cuti melahirkan, minimnya fasilitas dan dukungan bagi ibu menyusui, hingga kebijakan kerja yang belum ramah perempuan.
Selain itu, akses layanan kesehatan ibu dan anak yang belum merata, terutama bagi masyarakat menengah ke bawah, juga dinilai sebagai persoalan serius yang membutuhkan perhatian pemerintah.
Yang lebih memprihatinkan, kata Ihsan, kekerasan terhadap perempuan masih kerap terjadi, bahkan di lingkungan rumah tangga yang seharusnya menjadi ruang paling aman. Banyak kasus tidak terungkap karena korban terjebak tekanan ekonomi, sosial, dan budaya.
Ihsan mendorong pemerintah daerah, legislatif, serta organisasi masyarakat untuk memperkuat kebijakan perlindungan terhadap ibu dan perempuan, tidak berhenti pada regulasi, tetapi diwujudkan melalui langkah konkret dan berkelanjutan.
“Peradaban bangsa tercermin dari bagaimana negara memperlakukan para ibu. Jika peran mereka terus dibebani tanpa perlindungan, maka yang dipertaruhkan adalah masa depan generasi,” pungkasnya.
Hari Ibu sebagai Momen Refleksi
Hari Ibu seharusnya menjadi momen refleksi kolektif. Perlindungan terhadap ibu bukan sekadar urusan keluarga, tetapi tanggung jawab masyarakat dan negara. Perlindungan itu hadir melalui kebijakan yang berpihak, hukum yang tegas, lingkungan kerja ramah keluarga, dan budaya sosial yang adil bagi perempuan.
Lebih dari itu, perlindungan juga berarti mengubah cara pandang: berhenti menormalisasi lelah ibu, berhenti menganggap beban ganda perempuan sebagai hal wajar, dan mulai mengakui bahwa ibu berhak didengar, didukung, dan dihargai pilihannya apa pun jalan hidup yang ia pilih. (erniyati)
Komentar
Posting Komentar