Menanam Empati, Mahasiswa USU Rangkul Siswa SMAN 4 Medan Cegah Bullying




MEDAN — Di sebuah ruang kelas SMA Negeri 4 Medan, Senin (20/10/2025), suasana belajar terasa berbeda. Bukan tentang angka dan rumus, melainkan tentang rasa, empati, dan keberanian untuk peduli. Kelompok mahasiswa Proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) 45 Universitas Sumatera Utara (USU) hadir membawa pesan sederhana namun mendalam: setiap anak berhak merasa aman dan dihargai di sekolahnya.

Melalui pendidikan karakter berbasis empati, mahasiswa USU berupaya membuka mata dan hati para siswa mengenai dampak perundungan atau bullying. Kegiatan ini menjadi ruang aman bagi siswa untuk memahami bahwa kata-kata, candaan, dan sikap yang dianggap sepele bisa meninggalkan luka panjang bagi orang lain.

Dengan pendampingan Dosen Fasilitator Prof. Dr. Dwi Widayati, M.Hum., serta Mentor Vioura Inri Philia Barus, mahasiswa menyampaikan materi secara interaktif tentang berbagai bentuk bullying, penyebab terjadinya, hingga dampak psikologis dan sosial yang sering kali dipendam korban dalam diam.

“Kadang kita tidak sadar, satu ejekan kecil bisa membuat seseorang kehilangan kepercayaan diri dan semangat belajar,” ungkap salah satu mahasiswa pemateri. Pesan ini mengalir dalam diskusi, video edukasi, dan studi kasus yang membuat siswa mulai melihat perundungan dari sudut pandang korban.

Momen paling menyentuh terjadi saat sesi role play dan berbagi pengalaman. Siswa diajak merasakan peran sebagai korban, pelaku, dan penolong. Beberapa siswa dengan suara bergetar mengisahkan pengalaman mereka menyaksikan atau mengalami bullying. Dari hasil kuesioner terungkap, 33 dari 36 siswa pernah berhadapan langsung dengan perundungan, terutama secara verbal.

Suasana haru bercampur kesadaran memenuhi ruangan. Bagi banyak siswa, ini menjadi kali pertama mereka benar-benar didengar tanpa dihakimi. Mahasiswa USU hadir bukan sebagai pengajar semata, melainkan sebagai teman yang merangkul dan menguatkan.

      Kepala Sekolah SMA 4 Medan, Rianto Sinaga

Untuk mencairkan suasana, kegiatan dilanjutkan dengan ice breaking, permainan edukatif, dan kuis berhadiah yang menekankan nilai kerja sama dan saling menghargai. Tawa pun kembali hadir, menandai harapan akan perubahan.

Pihak sekolah menyambut hangat kegiatan ini. Kepala SMA Negeri 4 Medan, Drs. Rianto Hasoloan Sinaga, mengapresiasi langkah mahasiswa USU dalam membantu sekolah mengantisipasi dan mencegah bullying sejak dini. Menurutnya, pendidikan karakter dan empati harus menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi yang beradab.

“Kegiatan seperti ini menyentuh sisi kemanusiaan siswa. Mereka belajar bukan hanya untuk pintar, tetapi juga untuk peduli,” ujarnya.

Sebagai penutup, mahasiswa menyerahkan plakat penghargaan kepada pihak sekolah, memasang spanduk kampanye anti-bullying, serta mendokumentasikan kegiatan dalam bentuk video kampanye digital. Pesan yang ingin ditinggalkan sederhana namun bermakna: sekolah seharusnya menjadi rumah kedua yang aman bagi setiap anak.

Mahasiswa USU berharap nilai empati yang ditanamkan hari itu tidak berhenti di ruang kelas, tetapi tumbuh menjadi budaya. Karena ketika empati hidup, perundungan tak lagi memiliki ruang.(erniyati)


Komentar