Menata Medan Masa Depan: Refleksi Akhir Tahun Menuju Kota Metropolitan Berkarakter Budaya dan Smart City
Oleh: M. Ihsan Kurnia
Ketua MKGR Kota Medan / Pemerhati Kota Medan
Medan adalah kota dengan denyut yang tak pernah benar-benar berhenti. Ia hidup siang dan malam, tumbuh di antara hiruk-pikuk perdagangan, keberagaman budaya, dan dinamika sosial yang kompleks. Dengan jumlah penduduk lebih dari 2,6 juta jiwa, Medan telah lama menyandang predikat kota metropolitan. Namun, pertanyaan mendasarnya bukan lagi sekadar seberapa besar Medan, melainkan sejauh mana Medan mampu memberi kualitas hidup yang layak bagi warganya.
Di penghujung tahun 2025 dan menyongsong 2026, refleksi menjadi sebuah keniscayaan. Bukan untuk meratapi kekurangan, tetapi untuk menata arah masa depan. Medan membutuhkan lompatan visi: menjadi kota metropolitan yang modern dan cerdas, tanpa kehilangan jati diri budaya dan sejarahnya.
Medan dan Identitas Sejarah yang Membentuk Karakter Kota
Medan bukan kota yang lahir kemarin. Sejarah panjangnya sebagai pusat perdagangan dan pemerintahan sejak masa kolonial telah membentuk watak kota yang terbuka dan multikultural. Melayu Deli, Batak, Tionghoa, Jawa, Minang, India, dan berbagai etnis lain hidup berdampingan, menjadikan Medan sebagai miniatur Indonesia.
Keberagaman ini adalah kekuatan, bukan beban. Namun, kekuatan ini harus terus dirawat. Tanpa kesadaran kolektif, modernisasi yang tak berpijak pada nilai budaya justru berpotensi menggerus identitas kota. Medan tidak boleh menjadi kota besar yang kehilangan ruhnya.
Harapan Warga: Kota yang Layak Dihuni
Harapan warga Medan sesungguhnya sederhana, tetapi fundamental:
Kota yang bersih, tertata, dan ramah lingkungan
Infrastruktur yang mendukung mobilitas dan aktivitas ekonomi
Pelayanan publik yang adil, cepat, dan transparan
Kesempatan ekonomi yang terbuka luas bagi UMKM dan generasi muda
Kehidupan sosial yang aman, toleran, dan harmonis
Harapan-harapan ini menuntut kehadiran negara—dalam hal ini pemerintah kota—yang tidak hanya bekerja administratif, tetapi juga visioner dan responsif.
Tantangan Perkotaan yang Kian Kompleks
Sebagai kota metropolitan, Medan menghadapi tantangan multidimensi. Kemacetan lalu lintas dan polusi udara menjadi masalah harian. Pertumbuhan penduduk yang cepat tidak selalu diiringi dengan penataan ruang yang disiplin. Kawasan resapan air menyempit, drainase tak lagi memadai, dan banjir masih menjadi momok tahunan.
Di sisi lain, kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan dan budaya belum sepenuhnya merata. Padahal, tanpa partisipasi warga, kebijakan sebaik apa pun akan kehilangan daya dorong.
Medan juga dihadapkan pada persaingan antar kota. Kota-kota lain berlomba menjadi pusat investasi, pariwisata, dan ekonomi kreatif. Jika Medan berjalan di tempat, maka ketertinggalan hanya soal waktu.
Pembangunan yang Berpihak pada Manusia
Pembangunan kota tidak boleh berhenti pada beton dan aspal. Infrastruktur jalan, transportasi, dan kebersihan lingkungan memang penting, tetapi yang lebih penting adalah dampaknya terhadap kehidupan warga.
Pengembangan ekonomi lokal, khususnya UMKM, harus menjadi tulang punggung pembangunan. UMKM bukan sekadar pelengkap, melainkan penggerak ekonomi rakyat. Dukungan permodalan, pelatihan, dan akses pasar harus diperluas agar pertumbuhan ekonomi terasa hingga ke lapisan bawah.
Pendidikan dan Kesehatan: Investasi Masa Depan
Pendidikan adalah fondasi kota masa depan. Kualitas sekolah negeri perlu ditingkatkan, fasilitas pendidikan harus diperbarui, dan program beasiswa diperluas agar tidak ada anak Medan yang tertinggal hanya karena faktor ekonomi.
Demikian pula sektor kesehatan. Akses layanan kesehatan yang merata—terutama di wilayah pinggiran—harus menjadi prioritas. Peningkatan kualitas layanan, pencegahan penyakit, dan promosi hidup sehat adalah investasi jangka panjang yang hasilnya tidak selalu instan, tetapi sangat menentukan kualitas sumber daya manusia.
Toleransi dan Keamanan sebagai Pilar Kota
Medan adalah kota plural. Kerukunan antarumat beragama dan antarbudaya bukan sekadar slogan, tetapi prasyarat stabilitas sosial. Program toleransi harus diperluas, dialog antar komunitas diperkuat, dan penegakan hukum terhadap tindakan intoleransi harus dilakukan tanpa kompromi.
Keamanan publik juga menjadi kebutuhan mendasar. Kota yang aman—terutama pada malam hari—akan meningkatkan kenyamanan, mendorong aktivitas ekonomi, dan menumbuhkan rasa percaya masyarakat terhadap pemerintah.
Menuju Medan Smart City
Sebagai kota metropolitan, Medan harus melangkah menuju smart city yang sesungguhnya. Bukan sekadar penggunaan aplikasi, tetapi transformasi cara kerja pemerintahan.
E-governance yang transparan, pelayanan publik berbasis teknologi, serta sistem informasi yang terintegrasi akan memperpendek jarak antara pemerintah dan warga. Teknologi harus menjadi alat untuk melayani, bukan sekadar simbol modernitas.
Transportasi Massal sebagai Solusi Strategis
Masalah kemacetan tidak akan selesai tanpa transportasi massal yang andal. Kehadiran bus listrik patut diapresiasi, namun ke depan perlu dikembangkan menjadi sistem Bus Rapid Transit (BRT) Mebidang yang terintegrasi.
Selain itu, percepatan pembangunan LRT Medan serta pengembangan kereta api commuter line Medan–Binjai–Deli Serdang adalah kebutuhan strategis. Transportasi massal bukan hanya soal mobilitas, tetapi juga soal keadilan sosial dan kualitas lingkungan.
Pelestarian Sejarah dan Penguatan Pariwisata
Modernisasi tidak boleh menghapus sejarah. Istana Maimun, Masjid Raya Al-Mashun, Katedral Medan, Rumah Tjong A Fie, serta kawasan Kota Tua Kesawan adalah penanda identitas kota yang harus dijaga.
Jika ditata dengan serius, warisan sejarah ini bukan hanya simbol masa lalu, tetapi juga penggerak pariwisata dan ekonomi kreatif. Demikian pula dengan pengembangan pusat budaya, taman kota, wisata kuliner, Pantai Belawan, dan Danau Siombak—Medan memiliki potensi besar sebagai kota wisata urban.
Banjir: Ujian Konsistensi Kebijakan
Pengendalian banjir adalah pekerjaan rumah besar yang menuntut konsistensi. Normalisasi sungai, perbaikan drainase, penataan tata ruang, dan sistem peringatan dini harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan reaktif setiap kali bencana datang.
Harapan untuk Kepemimpinan Kota
Warga Medan menaruh harapan besar kepada Wali Kota Rico Waas dan Wakil Wali Kota Jakiyudin Harahap untuk terus berinovasi, menjaga komitmen, dan membangun kota dengan perspektif jangka panjang.
Menutup tahun 2025 dan menyambut 2026, mari jadikan refleksi sebagai energi perubahan. Dengan kebersamaan, keberanian mengambil keputusan, dan kesetiaan pada nilai budaya, Medan dapat tumbuh menjadi kota metropolitan yang cerdas, berkarakter, dan menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Utara.
Selamat tinggal 2025, selamat datang 2026.
Semoga Medan terus melangkah maju—tanpa kehilangan jati diri.
Komentar
Posting Komentar