Pagelaran “Buku Tak Pernah Lapuk” Ditutup, Teknologi Tidak Boleh Menggerus Budaya Membaca











Kepala Bidang Layanan, Elihayati

MEDAN, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumatera Utazra, Desni Maharani Saragih, S.STP, M.Si, Kepala Bidang Layanan, Elihayati secara resmi menutup Pagelaran dan Pameran Buku “Buku Tak Pernah Lapuk” yang berlangsung di Aobi Cave Siba, Jalan Singgalang No.1 Medan, Kamis (29/1/2026). Kegiatan ini menjadi refleksi penting atas tantangan literasi di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Dalam kegiatan tersebut, Kepala Bidang Layanan, Elihayati mengapresiasi  seluruh pihak yang telah berkontribusi dan meramaikan kegiatan, mulai dari panitia, narasumber, pegiat literasi, hingga masyarakat yang hadir.

Disampaikan pula bahwa kemajuan teknologi tidak boleh menggerus budaya membaca buku, khususnya di kalangan generasi muda. AI memang memudahkan akses informasi, namun tanpa kebiasaan membaca buku, kemampuan berpikir kritis dan pendalaman ilmu dikhawatirkan akan melemah.

“Artificial intelligence memudahkan akses informasi, tetapi jika tidak diimbangi dengan kebiasaan membaca buku, generasi muda bisa kehilangan kemampuan berpikir kritis dan menilai informasi secara objektif,” katanya.

Dalam sambutan itu juga ditegaskan bahwa buku cetak tetap menjadi fondasi pembelajaran yang kuat, sedangkan teknologi digital dan AI seharusnya diposisikan sebagai alat pendukung, bukan pengganti nalar dan penalaran manusia.

Puluhan pelajar yang hadir dalam kegiatan ini disebut menjadi bukti pentingnya ruang literasi yang mampu menyeimbangkan paparan gawai (handphone) dengan kebiasaan membaca.

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui Dinas Perpustakaan dan Arsip juga menyiapkan agenda peningkatan literasi sepanjang tahun ini, khususnya bagi siswa SD dan SMP. 

Program tersebut meliputi bimbingan teknis, pelatihan menulis, serta kegiatan resensi buku. Berdasarkan hasil survei, masih ditemukan anak-anak yang belum memahami isi bacaan dan datang ke perpustakaan sebatas untuk mengerjakan tugas sekolah, bukan untuk membaca secara mendalam.

Pagelaran dan pameran buku ini dinilai sangat bermakna karena mempertemukan warisan intelektual masa lalu melalui buku-buku klasik dengan gagasan-gagasan segar dari buku-buku modern. 

Keduanya saling melengkapi dan menunjukkan bahwa literasi merupakan perjalanan panjang yang terus berkembang dari generasi ke generasi. Buku klasik mengajarkan nilai, sejarah, dan kearifan, sementara buku modern membuka wawasan tentang perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan tantangan zaman.

Kegiatan ini juga menegaskan bahwa perpustakaan dan ruang literasi harus menjadi tempat yang hidup, sebagai ruang bertemunya ide, diskusi, dan kreativitas. Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumatera Utara menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan kegiatan literasi yang inklusif, relevan, dan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Pagelaran buku ini dihadiri sejumlah tokoh literasi dan akademisi, di antaranya Ketua Badko PMPT Sumut Syarifuddin Siba, Ketua SATUPENA Sumut Shafwan Hadi Umry, tokoh Melayu Nisful Khair, Prof. Saiful A. Matondang, Ph.D., serta para penulis, akademisi, pegiat literasi, komunitas buku, dan undangan dari berbagai kalangan.

Ketua SATUPENA Sumut, Shafwan Hadi Umry, menyampaikan bahwa pameran ini bertujuan mendekatkan buku kepada masyarakat, terutama generasi muda, sekaligus mendorong penguatan gerakan literasi nasional. Ia menegaskan pentingnya menyeimbangkan penggunaan AI dengan membaca buku agar pengetahuan yang diperoleh tidak bersifat instan.



Sementara itu, Syarifuddin Siba menekankan bahwa buku cetak tetap memiliki peran strategis dalam pendalaman ilmu dan pembentukan nalar kritis. Ia juga menyampaikan rencananya menjadikan Aobi Cave Siba sebagai knowledge and art café, ruang kreatif untuk diskusi intelektual, pertukaran gagasan, serta kegiatan seni dan literasi.

Tokoh Melayu Nisful Khair mengingatkan kecenderungan masyarakat di era digital yang “pandai bercakap, tetapi tak pernah berkitab”. Menurutnya, AI dapat membantu menemukan jawaban cepat, namun buku dan karya ilmiah tetap menjadi sumber pengetahuan utuh yang membentuk karakter dan pemikiran kritis.

Pagelaran ini juga dirangkai dengan diskusi literasi bertema “Masa Depan Literasi Cetak Berdampingan dengan Literasi Digital” yang menghadirkan narasumber Fosad/Sulaiman Sambas, Dr. M. Ali Pawiro, dan Syarifuddin Siba. Diskusi menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara literasi digital, pemanfaatan AI, dan kebiasaan membaca buku.

Dalam sesi penutupan, Ketua II SATUPENA Sumatera Utara Prof. Saiful A. Matondang, Ph.D., menyampaikan bahwa SATUPENA Sumut konsisten bergerak di bidang penulisan puisi, cerita pendek, dan novel. Ia menilai sastra memiliki peran strategis dalam membangun kemampuan berpikir kritis serta mengangkat persoalan ketimpangan sosial ke ruang publik.

Acara ditutup dengan pembacaan puisi dan harapan agar literasi cetak dan literasi digital dapat terus berjalan berdampingan, sehingga melahirkan generasi muda yang cerdas, kritis, dan mampu memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan kemampuan berpikir mendalam. Erniyati

Komentar