Sahlul Umur Situmeang
Medan — Suhu politik internal Partai Golkar Sumatera Utara menjelang Musyawarah Daerah (Musda) XI kian memanas. Wakil Ketua Pemenangan Pemilu (PP) IX Golkar Sumut, Sahlul Umur Situmeang, secara terbuka mengingatkan agar Musda tidak diseret menjadi arena politik balas dendam oleh kelompok tertentu yang dinilainya masih menyimpan kepentingan lama.
Sahlul menilai manuver politik kelompok Yasir Rihdo Lubis (Rhido) cs bukan sekadar dinamika biasa, melainkan upaya sistematis menguasai kembali struktur partai dengan memanfaatkan momentum Musda.
“Apa yang mereka lakukan bukan konsolidasi sehat, tapi politik balas dendam. Kalau ini dibiarkan, Golkar Sumut bisa mundur jauh ke belakang,” tegas Sahlul di Medan, Minggu (18/1).
Ia mengungkapkan, penggalangan dukungan yang dilakukan kelompok tersebut memanfaatkan posisi Ketua Harian DPD Golkar Sumut, bahkan disebut telah dipersiapkan sejak jauh hari sebelum penunjukan Ketua Pelaksana Tugas (Plt) Golkar Sumut. Menurutnya, pola ini menunjukkan adanya agenda tersembunyi yang berpotensi mencederai marwah organisasi.
Sahlul juga mengungkit kembali Musda Golkar Sumut 2019, yang kala itu menetapkan Rhido sebagai ketua, namun kemudian dianulir Mahkamah Partai. Musda ulang pada 2020 akhirnya melahirkan Musa Rajekshah (Ijeck) sebagai Ketua Golkar Sumut.
“Fakta ini tidak boleh dilupakan. Golkar Sumut pernah mengalami luka serius akibat proses yang cacat. Jangan sampai kesalahan serupa terulang hanya karena dendam politik,” katanya.
Ia menegaskan bahwa dirinya merupakan bagian dari pendukung Musa Rajekshah pada Musda 2020. Sahlul juga menyebut Andar tidak mendukung Ijeck saat itu karena kedekatan politiknya dengan Rhido, sebuah fakta yang menurutnya diketahui luas oleh kader Golkar di daerah.
Ketegangan internal semakin terlihat, lanjut Sahlul, saat kegiatan konsolidasi di Hotel Green City berubah menjadi ajang deklarasi dukungan terselubung kepada Andar. Kegiatan itu disebut melibatkan Bendahara Golkar Sumut, Viktor Silaen, dan dinilai menekan Ketua DPD II kabupaten/kota agar menandatangani surat dukungan.
“Ini bukan lagi konsolidasi, tapi demonstrasi kekuasaan. Ada tekanan struktural, ada arogansi, dan itu berbahaya,” tegasnya.
Sahlul meyakini langkah tersebut dilakukan tanpa sepengetahuan dan persetujuan Ketua Plt Golkar Sumut, Doli Kurnia. Ia menilai Ketua Plt masih menjaga netralitas, karena penggalangan dukungan dilakukan setelah yang bersangkutan meninggalkan lokasi acara.
Karena itu, Sahlul mendesak Ketua Plt Golkar Sumut memberikan teguran keras kepada pihak-pihak yang menyalahgunakan jabatan dan struktur partai demi ambisi pribadi.
Ia juga mengingatkan bahwa Rhido pernah mengalami revitalisasi jabatan saat menjabat sebagai Sekretaris Golkar Sumut di era H. Ajib Shah, yang menurutnya menjadi catatan penting bagi kader dalam menilai rekam jejak kepemimpinan.
“Para Ketua DPD II harus berpikir jernih. Pertanyaannya sederhana: apakah Golkar Sumut mau dipimpin oleh figur yang berpotensi dikendalikan oleh aktor lama? Ini soal masa depan partai,” ujarnya tajam.
Sahlul menyebut figur H. Hendrik Yanto Sitorus, Bupati Labuhanbatu Utara dua periode, sebagai sosok yang dinilainya memenuhi kriteria kepemimpinan Golkar Sumut ke depan—teruji, berintegritas, dan mampu merangkul seluruh kekuatan internal.
“Golkar butuh pemimpin yang menyatukan, bukan yang menghabisi. Klaim dukungan 23 DPD II yang digaungkan Rhido cs itu belum final dan sangat cair,” pungkasnya.
Di sisi lain, Yasir Rihdo Lubis merespons pernyataan tersebut dengan nada menenangkan. Ia menegaskan Musda seharusnya tidak dibaca dengan kacamata emosional.
“Berpolitik jangan pakai perasaan. Ini bukan soal cinta, tapi organisasi. Musda adalah mekanisme rutin yang wajar diwarnai dinamika,” ujarnya.
Menurut Yasir, perbedaan pandangan dalam Musda merupakan hal lazim dalam demokrasi internal partai, selama tetap mengedepankan logika, etika, dan semangat persaudaraan.
“Mari kita jaga Musda Golkar Sumut berjalan kondusif, rasional, dan bermartabat, sehingga melahirkan kepemimpinan yang kuat,” tutupnya. (tim)
Komentar
Posting Komentar