JAKARTA (): Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Agus Suryonugroho menegaskan bahwa Operasi Ketupat 2026 bukan sekadar pengamanan lalu lintas, tetapi merupakan operasi kemanusiaan untuk memastikan masyarakat dapat menjalankan ibadah Ramadan hingga Idulfitri dengan aman.
Ia menyampaikan, Polri hadir untuk menjaga momentum sosial dan spiritual masyarakat selama bulan suci hingga arus mudik dan arus balik Lebaran.
“Operasi Ketupat bukan hanya operasi lalu lintas, bukan hanya mengamankan arus mudik dan balik, tetapi Polri hadir menjaga momentum sosial dan spiritual masyarakat. Operasi Ketupat adalah operasi kemanusiaan, sehingga keselamatan menjadi yang paling utama,” ujar Agus, Kamis (5/3/2026).
Menurutnya, Operasi Ketupat 2026 direncanakan berlangsung pada 13–26 Maret 2026, sementara gelar pasukan akan dilaksanakan pada 12 Maret 2026 sebagai tanda dimulainya pengamanan secara nasional.
Agus juga menegaskan pihaknya telah melakukan pengecekan kesiapan personel serta sarana dan prasarana yang akan digunakan dalam operasi tersebut.
“Hari ini kita cek kesiapan anggota, sarana dan prasarana, termasuk kelengkapan pendukung operasi,” jelasnya.
Ia menambahkan, keberhasilan Operasi Ketupat sangat bergantung pada sinergi dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Berbagai langkah persiapan telah dilakukan, mulai dari rapat koordinasi hingga simulasi tactical floor game (TFG) untuk mematangkan strategi pengamanan.
“Stakeholder dan kolaborasi adalah kunci. Kita sudah rapat, latihan tactical floor game, rakor, serta mengevaluasi pelaksanaan Operasi Ketupat tahun lalu agar tahun ini lebih baik dan lebih lancar,” katanya.
Dalam pelaksanaan operasi tersebut, ribuan personel gabungan akan dikerahkan, terdiri dari unsur Kepolisian Negara Republik Indonesia, Tentara Nasional Indonesia, serta berbagai kementerian dan lembaga terkait. Selain itu, sejumlah pos pengamanan dan pelayanan juga akan didirikan di berbagai titik strategis.
Lebih lanjut Agus menjelaskan, pengamanan Operasi Ketupat akan difokuskan pada lima klaster utama, yaitu jalan tol, jalan arteri, pelabuhan penyeberangan, tempat ibadah, serta kawasan wisata dan pusat perbelanjaan.
“Yang diamankan ada lima klaster, yakni jalan tol, jalan arteri, pelabuhan penyeberangan seperti Merak–Bakauheni dan Ketapang–Gilimanuk, tempat ibadah seperti masjid, serta tempat wisata dan pusat keramaian, termasuk jalur alternatif,” pungkasnya.(erniyati)
Komentar
Posting Komentar