MEDAN – Gebyar Halal Bihalal Masyarakat Melayu Indonesia yang akan digelar pada 12 April 2026 di Hotel Grand Mercure Medan dimanfaatkan sebagai strategi untuk mengembalikan kejayaan budaya Melayu di Sumatera Timur. Hal ini ditegaskan oleh Tokoh Pemuda Melayu, Datok Yan Djuna.
Yan Djuna menekankan bahwa acara ini tidak boleh sekadar seremoni, tetapi harus menjadi momentum nyata membangkitkan kembali marwah budaya Melayu. Ia menilai pelestarian budaya saat ini membutuhkan pendekatan inovatif serta keterlibatan aktif generasi muda.
“Budaya Melayu harus hidup dalam keseharian masyarakat, bukan hanya menjadi sejarah,” ujar Yan Djuna, Selasa (7/4) di Medan. Ia menambahkan, penguatan identitas budaya dapat dilakukan melalui penggunaan atribut adat seperti tanjak, serta pengenalan kembali permainan tradisional seperti gasing dan congklak.
Tokoh yang aktif mengkampanyekan Ahoi Medan Tanah Deli Bumi Melayu di media sosial ini juga menekankan pentingnya modernisasi kesenian Melayu. Tarian dan berbalas pantun, menurutnya, bisa dikemas melalui ruang publik maupun media sosial agar lebih dekat dengan generasi muda dan memperkuat nilai kebersamaan, toleransi, serta religiusitas.
Yan Djuna berharap kegiatan ini menjadi titik awal lahirnya agenda besar “Melayu Raya Sumatera Timur”, yang akan menjadi wadah konsolidasi masyarakat Melayu dari Langkat, Tamiang, hingga Panai dalam memperjuangkan pengakuan sejarah, hak-hak adat, dan identitas budaya. Ia juga mendorong digelarnya pertemuan akbar dengan ribuan peserta mengenakan pakaian adat sebagai simbol persatuan dan kekuatan.
Acara ini diselenggarakan oleh Majelis Adat Budaya Melayu (MABMI), Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI), dan Gerakan Angkatan Melayu Muda Indonesia (GAMI) Sumatera Utara. Yan Djuna mengapresiasi langkah ketiga organisasi tersebut serta dukungan pemerintah daerah melalui berbagai kegiatan dan penelitian sejarah. Ia berharap sinergi antara pemerintah dan masyarakat adat terus diperkuat demi menjaga bahasa dan sastra Melayu sebagai jati diri bangsa.
“Selama ini Melayu terkesan terpecah-pecah. Momentum seperti ini harus dimanfaatkan untuk menunjukkan bahwa Melayu di Sumatera Utara adalah kekuatan besar yang tidak bisa dipandang remeh,” tegasnya.
Selain aspek budaya, Yan Djuna menekankan pentingnya edukasi sejarah bagi generasi muda agar mereka memahami perjuangan nenek moyang dalam mempertahankan tanah dan adat. Ia menilai kesadaran sejarah menjadi fondasi kuat bagi kelangsungan identitas Melayu di era modern.
Ia juga menyoroti peluang ekonomi kreatif yang bisa muncul dari pelestarian budaya. Menurutnya, pengembangan kerajinan tangan, kuliner tradisional, dan wisata budaya berbasis adat Melayu dapat menjadi sumber penghidupan sekaligus memperkuat daya tarik budaya bagi masyarakat luas dan wisatawan.
Sebagai penutup, Yan Djuna menegaskan bahwa seluruh upaya ini bertujuan menjaga nilai-nilai luhur seperti kebersamaan, gotong royong, dan kerja sama agar budaya Melayu tetap hidup di tengah arus globalisasi.
Komentar
Posting Komentar