11 Sastrawan Sumut Tembus Ajang Internasional PSN IV 2026, Shafwan Hadi Umry Pimpin Delegasi ke Aceh
Berdasarkan siaran pers yang diterima di Medan, Senin (1/6/2026), PSN IV mengusung tema **“Puisi untuk Kemanusiaan: Dari Diksi Jadi Puisi”**. Kegiatan ini akan menghadirkan delegasi sastrawan dari 14 negara, termasuk Jepang, India, Pakistan, serta sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.
Berbagai agenda telah disiapkan panitia, mulai dari diskusi sastra, pembacaan puisi, ziarah sastra, malam apresiasi dan resepsi, hingga musyawarah peserta dan tamu undangan. Kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan para pegiat sastra Nusantara dan mancanegara untuk memperkuat jejaring kebudayaan sekaligus menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan melalui karya sastra.
Penyelenggaraan PSN IV merupakan hasil kolaborasi antara Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dengan panitia lokal yang melibatkan Balai Bahasa Aceh, Komunitas Sanggar Sastra Aceh, dan Dewan Kesenian Aceh. Selama kegiatan berlangsung, peserta akan difasilitasi konsumsi, lokasi kegiatan, transportasi lokal, buku Antologi Puisi PSN IV, serta sertifikat peserta.
Untuk kebutuhan akomodasi, peserta diberikan kebebasan memilih penginapan sesuai kebutuhan masing-masing. Panitia telah merekomendasikan sejumlah hotel di sekitar lokasi kegiatan, antara lain Hotel Hermes, Palace Hotel, Kyriad Muraya, Hotel Grand Nanggroe, dan Amira Hotel.
Sebelas sastrawan asal Sumatera Utara yang dinyatakan lolos kurasi karya puisi dalam PSN IV 2026 yakni Sulaiman Sambas, Shafwan Hadi Umry, Teja Purnama, Raudah Jambak, Ratman Suras, Juhendri Chaniago, Wirja Taufan, Porman Wilson, Syarifuddin Marpaung, Kartika Sari, dan Fitri Panjang.
Ketua Satupena Sumatra Utara, Dr. Shafwan Hadi Umry, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan para sastrawan Sumut menembus proses kurasi yang ketat. Menurutnya, keikutsertaan dalam forum internasional tersebut merupakan kesempatan penting untuk memperkenalkan kekayaan sastra Sumatera Utara kepada dunia sekaligus memperluas jejaring kebudayaan lintas negara.
"Keberhasilan ini menunjukkan bahwa karya-karya sastrawan Sumatera Utara memiliki kualitas dan daya saing yang mampu berbicara di tingkat nasional maupun internasional. Ini menjadi kebanggaan bersama sekaligus tanggung jawab untuk terus berkarya dan mengharumkan nama daerah," ujar Shafwan.
Menjelang keberangkatan ke Aceh, para peserta dari Sumut disebut tengah melakukan persiapan intensif, baik untuk pembacaan puisi maupun penyusunan berbagai gagasan terkait perkembangan sastra modern yang akan disampaikan dalam forum diskusi dan musyawarah peserta.
Shafwan juga menyampaikan pesan yang selama ini menjadi prinsip hidupnya dan dinilai selaras dengan semangat kemanusiaan yang diusung PSN IV 2026.
"Belajarlah mengalah sampai tak seorang pun yang sanggup mengalahkanmu. Belajarlah merendah sampai tak seorang pun yang sanggup merendahkanmu. Selanjutnya hidup ini mudah, gengsi membuat kita susah," ungkapnya.
Menurutnya, sastra tidak hanya berbicara tentang keindahan bahasa, tetapi juga tentang kebijaksanaan hidup, kerendahan hati, serta kemampuan membangun empati di tengah masyarakat yang majemuk.
Tema “Puisi untuk Kemanusiaan: Dari Diksi Jadi Puisi” dinilai sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini. Melalui pertemuan yang berlangsung di Aceh, daerah yang kaya sejarah dan budaya, para sastrawan diharapkan mampu memperkuat gerakan literasi Nusantara serta menyebarkan pesan perdamaian, toleransi, dan kemanusiaan universal melalui karya sastra. (Erniyati)
Komentar
Posting Komentar