Bapenda Sumut Dibanjiri Kritik Netizen Pasca Gelar Gebyar Pajak Triwulan I 2026, Sistem Undian Digital Disebut "Settingan"
MEDAN – Badan Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara (Bapenda Sumut) mendadak jadi sorotan tajam netizen pasca menggelar acara "Apresiasi Masyarakat Taat Pajak: Undian 936 Hadiah Gebyar Pajak Triwulan I 2026". Acara yang digelar langsung di Aula Bapenda Sumut pada Jumat, 12 Juni 2026 ini alih-alih menuai pujian, dokumentasi videonya di media sosial justru dibanjiri kritik, sindiran, dan skeptisime dari masyarakat.
Berdasarkan pantauan dari kolom komentar unggahan tersebut, ketidakpercayaan masyarakat berpusat pada transparansi sistem pengundian digital yang digunakan oleh pihak penyelenggara.
Masyarakat menyoroti penggunaan aplikasi acak komputer dalam menentukan pemenang. Salah seorang netizen mempertanyakan efektivitas prosedur formalitas, seperti penyegelan laptop yang dinilai tidak menjamin keadilan jika sistemnya sendiri diduga dapat diatur dengan mudah oleh pihak internal.
"Apa gunanya laptop di segel kalau spinning drawnya pakai aplikasi atau website? Kan tinggal atur di sistem doang siapa yg bakal menang, toh pakai aplikasi milik sendiri kan?" tulis salah satu akun mengkritik sistem live draw tersebut.
Sebagian netizen bahkan secara terang-terangan menyatakan bahwa mereka lebih memercayai sistem pengundian manual konvensional ketimbang sistem digital yang dinilai rawan manipulasi.
Tuduhan "Settingan" dan "Orang Dalam"
Tidak hanya mengkritik sistem, kolom komentar juga dipenuhi dengan tudingan bahwa pemenang hadiah undian tersebut sebenarnya sudah diatur sebelumnya (settingan) untuk kalangan tertentu saja.
"Udah di setting πππ," sindir salah satu netizen.
"Yang menang orang2 dia juga π," tambah netizen lain yang menduga adanya permainan orang dalam.
"Pernah main ini filmnya, mereka2 aja ituπ," tulis komentar lainnya bernada sarkas.
"Dah tau siapa pemenangnyaππππ," timpal akun lainnya.
Sorotan Tajam Terhadap Anggaran Acara
Skeptisime publik tidak berhenti pada urusan pemenang undian saja. Netizen juga menyoroti urgensi pelaksanaan acara tersebut yang dinilai hanya menjadi alasan seremonial untuk menghabiskan anggaran dinas.
"Buat acara saja udah ada alasan mengeluarkan anggaran π pande kali cara ambil uang kantor ya kalian," kritik seorang warganet dengan tajam. Beberapa komentar lain juga menyindir secara ironis mengenai perputaran uang pajak masyarakat yang dikembalikan dalam bentuk hadiah acara, yang ujung-ujungnya tetap dikenakan potongan pajak kembali bagi si pemenang.
Hingga kini, gelombang komentar miring dan ketidakpercayaan dari netizen Sumut masih terus menghiasi platform media sosial. Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah besar bagi Bapenda Sumut dalam membuktikan transparansi, akuntabilitas, serta integritas dari program apresiasi yang mereka suguhkan kepada publik. (tim)
Komentar
Posting Komentar