Sastrawan Senior Sumut: PPN XIV Aceh Buka Babak Baru Sastra yang Lebih Hidup dan Dekat dengan Publik















Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh

MEDAN – Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh dinilai menjadi tonggak penting dalam menghadirkan wajah baru sastra yang lebih hidup, inklusif, dan dekat dengan masyarakat. Penilaian itu disampaikan Ketua Delegasi Sumatera Utara sekaligus Sastrawan Senior Sumut, Shafwan Hadi Umry, menyusul pelaksanaan seminar bertajuk "Puisi dan Musik" yang menjadi salah satu agenda utama PPN XIV Aceh.

Shafwan mengatakan, diskusi yang berlangsung pada Jumat (26/6) itu menjadi salah satu agenda paling menarik dalam PPN XIV Aceh yang digelar pada 22–29 Juni 2026. Kolaborasi antara penyair, musisi, dan seniman pertunjukan dinilai berhasil membuka perspektif baru tentang cara menyampaikan karya sastra kepada publik.

"Kolaborasi lintas disiplin antara seniman, komposer, dan penyair di forum ini sangat menghidupkan roh sastra itu sendiri. Puisi tidak lagi sekadar dibaca di atas kertas secara konvensional, melainkan ditransformasikan menjadi karya audio-visual yang ritmis dan melampaui teks tertulis," ujar Shafwan.

Menurutnya, konsep tersebut sejalan dengan tema besar PPN XIV Aceh, "Puisi untuk Kemanusiaan: Dari Diksi Jadi Aksi." Melalui musikalisasi puisi, pesan-pesan kemanusiaan dinilai lebih mudah dipahami dan diterima masyarakat karena disampaikan dengan pendekatan yang lebih komunikatif.


Shafwan menilai perpaduan puisi dan musik juga memiliki akar budaya yang kuat di Aceh, sebagaimana tercermin dalam tradisi sastra lisan Gayo dan seni Didong yang kaya dengan syair-syair puitis. Hal itu menunjukkan bahwa inovasi dalam sastra tetap dapat berpijak pada kearifan lokal.

Seminar tersebut juga diikuti delegasi dari 14 negara, termasuk negara-negara ASEAN, Jepang, Turki, dan Tasmania. Kehadiran peserta internasional memperkaya pertukaran gagasan mengenai pengembangan puisi musikal sebagai bagian dari perkembangan sastra di era digital.

Strategi Kebudayaan

Menurut Shafwan, integrasi puisi dan musik merupakan strategi kebudayaan yang adaptif untuk menjaga eksistensi sastra di tengah perubahan pola konsumsi informasi yang semakin cepat. Kolaborasi lintas disiplin dinilai mampu memperluas jangkauan sastra tanpa mengurangi nilai estetikanya.

Dalam PPN XIV yang dipusatkan di Banda Aceh dan Takengon itu, Shafwan memimpin langsung rombongan sastrawan, penyair, dan pegiat literasi dari Sumatera Utara. Kehadiran delegasi tersebut juga menjadi upaya memperkuat jejaring sastra Nusantara sekaligus mengenang sejarah lahirnya Pertemuan Penyair Nusantara yang pertama kali diselenggarakan di Kota Medan pada 2007.

Ia berharap gagasan dan hasil diskusi yang lahir dari seminar "Puisi dan Musik" dapat menjadi referensi bagi pengembangan sastra kontemporer di Indonesia serta mendorong lahirnya regenerasi penyair yang mampu menjawab tantangan zaman. Hasil pertemuan itu juga diharapkan dapat dibawa pulang untuk memperkuat ekosistem literasi, kreativitas sastra, dan kolaborasi seni di Sumatera Utara. (ERNI)

Komentar