Ratapan Anak Negeri: Di Bawah Bayang-Bayang Singgasana*





Utang kian menggunung, melilit nadi bangsa dalam lingkaran kemiskinan yang tak berujung. Sementara di atas sana, mereka berpesta pora, beban itu jatuh di pundak anak negeri yang kian sekarat menanggung lara. Inilah ironi sebuah negeri: utang dinikmati penguasa, namun rakyatlah yang dipaksa membayar dengan air mata.

Di tanah yang katanya kaya, anak negeri terasing di ladang-ladang sepi, berpeluh keringat hanya untuk sesuap nasi. Sementara itu, megahnya kota kian asing, dihuni oleh mereka yang datang dari seberang, duduk merenung di rumah-rumah mewah yang tak tersentuh tangan pribumi. Harga pangan melangit, mencekik leher yang sudah terjepit; beras, sagu, dan gandum menjadi barang mewah bagi perut-perut yang menjerit.

Sungguh malang nasib bangsaku. Di luar negeri menjadi budak yang terhina, di dalam negeri ditindas oleh penguasa yang bertopeng saudara. Sang penjajah kini tak lagi datang dengan kapal perang, melainkan mereka yang lahir dari rahim yang sama namun berhati garang, merampas kekayaan alam demi ambisi tujuh keturunan yang haus akan kekuasaan.

Motto "Adil dan Makmur" kini hanya menjadi hiasan dinding yang berdebu. Mereka yang seharusnya melindungi, kini bersatu dalam bayang-bayang, menjadi siluman yang menakuti rakyat tak berdaya. Kebenaran diputarbalikkan dalam narasi palsu, kepalsuan merongrong kejujuran hingga tak lagi bersisa. Kekayaan negeri dirampas, lalu dijadikan jaminan utang atas nama masa depan anak cucu kita.

Wahai bangsaku, wahai negeriku, kapankah keadilan benar-benar menyapa? Di singgasana yang megah itu, ambisi terus membara untuk merebut sisa-sisa napas negeri ini. Ampunilah kami, wahai Ibu Pertiwi.             





SYAHRIL POHAN
 

Komentar