Khairul Azmi Prioritaskan Dua Titik Banjir Menahun, Dikerjakan 2027


MEDAN (KilasBerita65): Persoalan banjir menahun di dua titik krusial Kota Medan, yakni Pintu Tol Jalan Letda Sujono dan Jalan Eka Warni, mulai mendapat penanganan yang lebih serius. Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Kota Medan memastikan penanganan permanen kedua lokasi tersebut menjadi prioritas dan ditargetkan mulai dikerjakan pada tahun anggaran 2027.

Kepala Dinas SDABMBK Kota Medan, Khairul Azmi, menegaskan persoalan banjir di Pintu Tol Jalan Letda Sujono, Kecamatan Medan Tembung, tidak cukup lagi ditangani dengan langkah sementara. Karena itu, Pemko Medan menyiapkan pembangunan kolam retensi sekaligus normalisasi saluran drainase secara menyeluruh.

Menurut Azmi, salah satu persoalan yang selama ini menjadi kendala adalah ketersediaan lahan. Namun, lokasi yang dibutuhkan kini telah didapat dan proses selanjutnya tinggal menunggu pembebasan lahan oleh Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang (PKPCKTR).

“Kendalanya selama ini ketersediaan lahan. Lokasinya sudah didapat dan tinggal proses pembebasan oleh Dinas PKPCKTR. Begitu lahannya selesai, langsung kita eksekusi tahun depan,” ujar Azmi saat meninjau lokasi bersama jajaran pimpinan daerah.

Penanganan di kawasan Letda Sujono juga akan dilakukan melalui pembenahan sistem drainase. Saluran yang selama ini ditutup atau terganggu akibat aktivitas warga akan dibongkar dan ditata kembali menggunakan U-Ditch standar sehingga aliran air dapat berfungsi lebih optimal.

Sementara itu, persoalan banjir di Jalan Eka Warni, Kecamatan Medan Johor, juga disiapkan solusi permanen melalui pembangunan sodetan sepanjang sekitar 2 kilometer. Proyek tersebut akan dikerjakan melalui kolaborasi Pemko Medan dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara untuk mengalirkan air menuju sungai.

Kondisi kedua titik tersebut memang membutuhkan penanganan terintegrasi karena persoalan banjir tidak berdiri sendiri. Selain menyangkut kapasitas drainase, terdapat persoalan kontur wilayah, keterbatasan lahan serta keterkaitan kewenangan antarlembaga.

Di tengah kritik masyarakat terhadap banjir yang berulang setiap kali hujan deras, langkah yang disiapkan SDABMBK ini patut diapresiasi. Setidaknya, penanganan tidak lagi berhenti pada penyedotan genangan setelah banjir terjadi, tetapi mulai diarahkan pada pembangunan infrastruktur yang diharapkan mampu mengurangi persoalan dari sumbernya.

Sambil menunggu pekerjaan fisik dimulai pada 2027, SDABMBK tetap menyiagakan armada mobil penyedot air di sejumlah lokasi rawan. Petugas akan melakukan penyedotan ketika terjadi hujan deras guna mempercepat surutnya genangan dan mengurangi gangguan terhadap masyarakat serta pengguna jalan.

Langkah Khairul Azmi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa persoalan banjir menahun membutuhkan keberanian untuk menyelesaikan akar masalah, bukan sekadar memindahkan genangan dari satu tempat ke tempat lain.

“Kalau setiap hujan hanya disedot, banjir memang bisa surut. Tetapi kalau ingin benar-benar selesai, sistem drainasenya yang harus dibenahi,” demikian semangat penanganan yang kini diarahkan SDABMBK.

Dengan pembangunan kolam retensi di Letda Sujono, normalisasi drainase serta sodetan 2 kilometer di Eka Warni, Pemko Medan diharapkan tidak sekadar menjanjikan penanganan banjir, tetapi benar-benar menghadirkan solusi permanen bagi warga yang selama bertahun-tahun menghadapi persoalan yang sama. (Tim)

Komentar